Senin, 21 November 2016

Ketuban Pecah tapi Belum Ada Pembukaan, Gimana Ya?

Kemarin kan aku udah cerita tentang kakakku yang baru saja melahirkan karena KPD, hari ini kita akan membahas tentang KPD ya.

Jadi ketuban pecah dini atau KPD itu adalah kondisi dimana selaput ketuban pecah sebelum ada tanda-tanda persalinan, KPD ini bis saja terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu (preterm) maupun setelah kehamilan mencapai 37 minggu (aterm).

Penyebab dari KPD ini banyak sekali, tapi yang paling sering ditemui sih, ada :

1.serviks inkompeten, dimana kondisi serviks menipis sebelum waktunya dan mulut rahim atau serviks terus mengalami pembukaan, sehingga tidak mampu menahan kandungan lagi
2.Ketegangan rahim yang berlebihan, dapat terjadi akibat adanya kehamilan kembar dan hidramnion, sehingga rahim melebar lebih luas daripada kehamilan normal lainnya.
3.Kelainan letak janin dalam rahim yaitu, kehamilan dengan letak sungsang dan letak sungsang
4.Kemungkinan panggul sempit dimana bagian terendah janin belum masuk PAP
5.Kelainan selaput ketuban
6.Infeksi kuman dan bakteri yang menyebabkan menipisnya leher rahim maupun selaput itu sendiri
7.Memiliki riwayat KPD sebelumnya
8.Karena trauma seperti berhubungan seksual, mengerjakan pekerjaan yang terlalu berat dan terjatuh
9.Merokok dan alkohol

Ketuban pecah dini ini sangat susah dikenali dan terkadang meragukan apakah yang keluar adalah cairan ketuban atau bukan, untuk bisa mengetahui apakah yang keluar adalah cairan ketuban bisa dengan cara memperhatikan :

1.adanya cairan berupa mekonium, vorniks kaseosa, rambut lanugo dan jika sudah terinfeksi biasanya berbau.
2.Jika cairan yang keluar dari vagina sedikit, bagian terbawah janin dapat digerak-gerakkan sehingga cairan yang keluar akan lebih banyak
3.Cairan dapat berwarna jernih, putih dan hijau
4.Cairan ketuban dapat pecah saat duduk, berbaring maupun sedang melakukan aktifitas
5.Apabila ketuban telah lama pecah maka akan terjadi infeksi yang ditandai dengan demam.

Diagnosis KPD ini juga bisa ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan inspekulo. Dari anamnesis didapatkan ibu merasa keluar cairan yang sedikit mauoun banyak secara tiba-tiba. Kemudian dilakukan pemeriksaan inspekulo dengan memasukkan speculum steril kedalam vagina untuk melihat adanya cairan yang keluar dari serviks atau menggenang di forniks posterior.

Jika tidak ada, gerakkan sedikit bagian bawah janin, atau minta ibu untuk mengedan (mengejan) atau batuk. Pada saat kita mencurigai adanya KPD maka pemeriksaan dalam sebaiknya tidak dilakukan kecuali akan dilakukan penanganan aktif (melahirkan bayi) karena dapat mengurangi latensi dan meningkatkan kemungkinan infeksi.

Jika KPD ini tidak segera di tangani maka akan timbul komplikasi terhadap ibu seperti demam, infeksi, prolaps tali pusat, kelahiran preterm, oligohidramnion dan endometritis. Komplikasi pada janin seperti, gawat janin, asfiksiada, sepsis perinatal, trauma saat lahir dan lahir prematur.

Jadi... untuk mencegah terjadinya KPD kita bisa lebih berhati-hati dalam melakukan pekerjaan sehari-hari, hindari rokok apalagi alkohol, jangan berkendara terlalu jauh dan melewati jalan-jalan yang terjal apalagi di awal-awal kehamilan, boleh melakukan hubungan seksual, tapi harus sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan profesional ya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar