Jumat, 30 Desember 2016

Asuhan Kebidanan Pada Bayi dengan Hipotermia

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
A.Definisi
Bayi Hipotermi (Neonatus dengan hipotermia) adalah bayi dengan suhu badan di bawah normal. Adapun suhu normal bayi adalah 36,5-37,5oC. Suhu normal pada neonatus 36,5-37,5oC (suhu ketiak). (Marmi, 2015)Hipotermia adalah bayi yang kaki dan tangannya terasa dingin dan sering menangis, karena produksi panas yang kurang akibat sirkulasi masih belum sempurna, respirasi masih lemah dan konsumsi oksigen rendah, inaktivitas otot serta asupan makanan rendah. (Sari Wahyuni, 2011)

B.Mekanisme Kehilangan Panas
Mekanisme hilangnya panas pada bayi baru lahir yaitu dengan :
a.Evaporasi
Adalah kehilangan panas karena penguapan cairan ketuban yang melekat pada permukaan tubuh bayi yang tidak segera dikeringkan. Contoh : air ketuban pada tubuh bayi baru lahir tidak cepat dikeringkan serta bayi segera dimandikan.
b.Konduksi
Adalah kehilangan panas karena panas tubuh melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan permukaan yang dingin seperti : meja, tempat tidur atau timbangan yang temperaturnya lebih rendah dari tubuh bayi akan menyerap panas tubuh bayi melalui mekanisme konduksi apabila bayi diletakan di atas benda tersebut.
c.Konveksi
Kehilangan panas tubuh yang terjadi pada saat bayi terpapar udara sekitar yang lebih dingin. Kehilangan panas juga terjadi jika konveksi aliran udara dan kipas angin, hembusan udara melalui ventilasi atau pendingin ruangan.
d.Radiasi
Kehilangan panas tubuh yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi karena benda tersebut akan menyerap radiasi panas tubuh bayi.

C.Etiologi
Penyebab terjadinya hipotermi pada bayi yaitu :
  1. Jaringan lemak subkutan tipis
  2. Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar
  3. Cadangan glikogen dan brown fat sedikit
  4. BBL (Bayi Baru Lahir) tidak mempunyai respon Shivering (menggigil) pada reaksi kedinginan
  5. Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang beresiko tinggi mengalami hipotermi. (Ai Yeyeh Rukiyah, 2012)
D.Patofisiologi
Temoregulasi adalah multisistem, bergantung pada multiorgan, dan hipotermi memberikan dampak pada mereka semua dengan manifestasi patofisiologi yang sebanding dengan tingkatan hipotermia. Sebagai garis pertahanan pertama, kehilangan panas diminimalisasi oleh vasokonstriksi periferal.
Efek yang paling menonjol adalah pada ekstremitas. Vasokonstriksi periferal mengarah pada acrocyanosis, ekstremitas dingin, dan penurunan perfusi periferal. Kulit dari bayi baru lahir hipotermia sering dingin dengan sentuhan, dan akan terasa dingin yang mencolok pada kasus yang berat.
Garis pertahanan kedua dari bayi baru lahir adalah non-shivering thermogenesis terkait dengan metabolisme jaringan adiposa coklat. Kurangnya kontribusi menggigil menyebabkan petugas kesehatan yang terlatih dan keluarga kurang menyadari hipotermia pada bayi baru lahir. Selanjutnya, bahkan nonshivering thermogenesis terganggu pada bayi baru lahir untuk 12 jam pertama kehidupan dan pada bayi yang sakit, hipoksia atau mengalami asfiksia pada persalinan.
Pada keadaan normal suhu tubuh bayi dipertahankan 37 C ( 36,5 C – 37 C) yang diatur oleh SSP (sistem termostat) yang terletak di hipotalamus. Perubahan suhu akan mempengaruhi sel – sel yang sangat sensitif di hipotalamus (chemosensitive cells). Pengeluaran panas dapat melalui keringat, dimana kelenjar – kelenjar keringat dipengaruhi serat – serat kolinergik dibawah kontrol langsung hipotalamus.
Melalui aliran darah di kulit yang meningkat akibat adanya vasodilatasi pembuluh darah dan ini dikontrol oleh saraf simpatik. Adanya rangsangan dingin yang di bawa ke hipotalamus sehingga akan timbul peningkatan produksi panas melalui mekanime yaitu nonshivering thermogenesis dan meningkatkan aktivitas otot. Akibat adanya perubahan suhu sekitar akan mempengaruhi kulit. Kondisi ini akan merangsang serabut – serabut simpatik untuk mengeluarkan norepinefrin.
Norepinefrin akan menyebabkan lipolisis dan reseterifikasi lemak coklat, meningkatkan HR dan O2 ke tempat metabolisme berlangsung, dan vasokonstriksi pembuluh darah dengan mengalihkan darah dari kulit ke organ untuk meningkatkan termogenesis. Gangguan salah satu atau lebih unsur-unsur termoregulasi akan mengakibatkan suhu tubuh berubah, menjadi tidak normal.

Apabila terjadi paparan dingin, secara fisiologis tubuh akan memberikan respon untuk menghasilkan panas berupa :
  1. Shivering thermoregulation/ST : Merupakan mekanisme tubuh berupa rnenggigil atau gemetar secara involuner akibat darikontraksiotot untuk menghasilkan panas.
  2. Non-shivering thermoregulation/NST : Merupakan mekanisrne yang dipengaruhi oleh stimulasi sistem saraf sirnpatis untuk menstimulasi proses metabolik dengan melakukan oksidasi terhadap jaringan lemak coklat. Peningkatan metabolisme jaringan lemak coklat akan meningkatkan produksi panas dan dalam tubuh. 
  3. Vasokonstriksi perifer : Mekanisme ini juga distimulasi oleh sistern sarafsimpatis, kemudian sistem sarafperiferakan memicu otot sekitar arteriol kulit utuk berkontraksi sehingga terjadi vasokontriksi.Keadaan ini efektif untuk mengurangi aliran darah ke jaringan kulit dan mencegah hilangnya panas yang tidak berguna. 
Untuk bayi, respon fisiologis terhadap paparan dingin adalah proses oksidasi dari lemak coklat atau jaringan adiposa coklat. Pada bayi BBL, NST ( proses oksidasi jaringan lemak coklat) adalah jalur yang utarna dari suatu peningkatan produksi panas yang cepat, sebagai reaksi atas paparan dingin. Sepanjang tahun pertama kehidupan, jalur ST mengalami peningkatan sedangkan untuk jalur NST selanjutnya akan menurun.

Jaringan lemak coklat berisi suatu konsentrasi yang tinggi dari kandungan trigliserida, merupakan jaringan yang kaya kapiler dan dengan rapat diinervasi oleh syaraf simpatik yang berakhir pada pembuluh-pembuluh darah balik dan pada masing-masing adiposit. Masing-masing sel mempunyai banyak mitokondria, tetapi yang unik di sini adalah proteinnya terdiri dari protein tak berpasangan yang mana akan membatasi enzim dalarn proses produksi panas.

Dengan demikian, akibat adanya aktifitas dan protein ini, maka apabila lemak dioksidasiakan terjadi produksi panas, dan bukan energi yang kaya ikatan fosfat seperti pada jaringan lainnya. Noradrenalin akan merangsang proses lipolisis dan aktivitas dari protein tak berpasangan, sehingga dengan begitu akan menghasilkan panas.

E.Klasifikasi
Berikut adalah klasifikasi hipotermia :
  1. Hipotermia ringan : suhu 
  2. Hipotermia sedang : Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, Suhu antara 32-36oC.
  3. Hipotermia kuat : Bila suhu tubuh < 32oC. 
F.Tanda dan Gejala
1.Tanda-Tanda
  • Hipotermia sedang (Stress dingin) : Aktivitas berkurang, letargis, tangisan lemah, kulit berwarna tidak rata (cutis marmorata), kemampuan menghisap lemah, kaki teraba dingin.
  • Hipotermia berat (Cedera dingin) : sama dengan hipotermia sedang, bibir dan kuku kebiruan, pernapasan lambat, pernapasan tidak teratur, bunyi jantung lambat, selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolic. Tanda-tanda stadium lanjut hipotermia, muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang, bagian tubuh lainnya pucat, kulit mengeras merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki dan tangan (sklerema). (Ai yeyeh rukiyah, 2012)
2.Gejala
  • Awal hipotermia adalah suhu 
  • Bayi tidak mau minum/menetek
  • Bayi tampak lesu atau mengantuk saja
  • Tubuh bayi teraba dingin
  • Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi mengeras (sklerema) (Deslidel, 2011)
G.Diagnosis
Diagnosis hipotermi ditegakkan dengan pengukuran suhu baik suhu tubuh atau kulit bayi. Pengukuran suhu ini sangat bermanfaat sebagai salah satu petunjuk penting untuk deteksi awal adanya suatu penyakit, dan pengukurannya dapat dilakukan melalui aksila, rektal atau kulit.

Melalui aksila merupakan prosedur pengukuran suhu bayi yang dianjurkan, oleh karena mudah, sederhana dan aman. Tetapi pengukuran melalui rektal sangat dianjurkan untuk dilakukan pertama kali pada semua BBL, oleh karena sekaligus sebagai tes skrining untuk kemungkinan adanya anus imperforatus. Pengukuran suhu rektal tidak dilakukan sebagai prosedur pemeriksaan yang rutin kecuali pada bayi-bayi sakit.

H.Penatalaksanaan
1.Mempertahankan suhu tubuh untuk mencegah hipotermi. Menurut Indarso, F (2001), ada beberapa cara untuk mempertahankan suhu tubuh Bayi dalam mencegah hipotermi adalah :

  • Menyiapkan tempat melahirkan yang hangat, kering dan bersih
  • Mengeringkan tubuh bayi yang baru lahir/ air ketuban segera setelah lahir dengan handuk yang kering dan bersih
  • Menjaga bayi hangat dengan cara mendekap bayi di dada ibu dengan keduanya diselimuti (metode kanguru)
  • Memberi ASI sedini mungkin segera setelah melahirkan agar dapat merangsang pooting reflex dan bayi memperoleh kalori dengan : 1) menyusui bayi; 2) pada bayi kurang bulan yang belum bisa menetek ASI diberikan dengan sendok atau pipet; 3) selama memberikan ASI bayi dalam dekapan ibu agar tetap hangat. 
  • Mempertahankan bayi tetap hangat selama dalam perjalanan pada waktu rujukan
  • Memberikan penghangatan pada bayi baru lahir secara mandiri
  • Melatih semua orang yang terlibat dalam pertolongan persalinan. Menunda memandikan bayi lahir sampai suhu tubuh normal untuk mencegah terjadinya serangan dingin, ibu/keluarga dan penolong persalinan harus menunda memandikan bayi.
2.Segera menghangatkan bayi di dalam incubator atau melalui penyinaran lampu
3.Bila tubuh bayi masih dingin, gunakan selimut atau kain hangat yang disetrika terlebih dahulu yang digunakan untuk menutupi tubuh bayi dan ibu, lakukan berulang kali sampai tubuh bayi hangat, tidak boleh memakai buli-buli panas karena bahaya luka bakar.
4.Biasanya bayi hipotermi menderita hipoglikemia sehingga bayi harus diberi ASI sedikit-sedikit dan sesering mungkin. Bila bayi tidak dapat mengisap beri infuse glukosa 10% sebanyak 60-80 ml/Kg per hari. (Ai yeyeh Rukiyah, 2012)

I.Komplikasi
Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh hipotermi yaitu : hipoglikemia, asidosis metabolic, karena vasokonstriksi perifer dengan metabolisme anaerob, kebutuhan oksigen yang meningkat sehingga pertumbuhan terganggu, gangguan pembekuan sehingga mengakibatkan perdarahan pulmonal yang menyertai hipotermi berat, shock, apnea, perdarahan intraventrikuler. (Ai yeyeh rukiyah, 2012)

Gangguan sistem saraf pusat: koma, menurunnya reflex mata (seperti mengedip), kardiovaskular: penurunan tekanan darah secara berangsur, menghilangnya tekanan darah sistolik, pernafasan: menurunnya konsumsi oksigen, saraf dan otot: tidak adanya gerakan, menghilangnya reflex perifer.

Ketika suhu tubuh turun, semua susunan tubuh akan terpengaruh dan semakin rendah suhu tubuh, maka akan lebih parah pengaruhnya. Pada sistem saraf pertama sekali dipengaruhi fungsi cerebral yang lebih tinggi, mengarah pada timbulnya kelemahan, penurunan aktivitas otot dan kehilangan refleks.

Pada sistem pernapasan depresi dari sistem saraf pusat mengarah pada terjadinya depresi pusat pernapasan, pernapasan menjadi lambat dan dangkal dengan memanjangnya fase ekspirasi. Hal ini mengarah pada retensi karbon dioksida dan menimbulkan asidosis. Jaringan paru-paru juga terlibat dengan adanya peningkatan tekanan dalam pembuluh darah paru-paru yang mengarah pada timbulnya edema paru-paru. Pembuluh darah kecil dapat mengalami ruptur dan darah dapat dibatukkan keluar (hemoptisis).

Pada sistem kardiovaskuler denyut jantung menjadi lambat, sebagai akibat aksi langsung dari suhu darah terhadap nodus sini-atrial. Tidak adanya aktivitas otot mencegah aliran balik vena yang adekuat, sehingga mengarah pada penurunan keluaran jantung. Juga terjadi pergeseran cairan dari darah kedalam jaringan yang menimbulkan edema, hemokonsentrasi dan suatu peningkatan viskositas darah. Hipotermia yang parah juga mempengaruhi ritme dari kerja jantung menimbulkan fibrilasi ventrikuler dan atrium.

BAB II

KONSEP MANAJEMEN KEBIDANAN PADA NEONATUS DENGAN HIPOTERMIA 

A.Pengkajian

•Hari/tanggal : sebagai dokumentasi bidan dalam melakukan manajemen asuhan kebidanan.
•Pukul : sebagai dokumentasi bidan dalam melakukan manajemen asuhan kebidanan.
•Tempat : sebagai dokumentasi bidan dalam melakukan manajemen asuhan kebidanan.
•Pemeriksa : sebagai dokumentasi bidan dalam melakukan manajemen asuhan kebidanan.

I.Data Subjektif

1.Biodata
  • Biodata Bayi Nama Bayi : (Untuk Mengenal, memanggil, dan menghindari terjadinya kekeliruan)
  • Tanggal Lahir : (Untuk mengetahui umur bayi saat dilakukan pemeriksaan) 
  • Jenis Kelamin : (Untuk mengetahui jenis kelamin bayi, dan membedakan bayi yang satu dengan yang lainnya) 
  • Biodata Orang Tua Bayi
    1. Nama Ibu dan Ayah : (Untuk Mengenal, memanggil, dan menghindari terjadinya kekeliruan)
    2. Umur Ibu dan Ayah : (untuk mengetahui umur orang tua, pada ibu hamil usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun beresiko melahirkan bayi BBLR yang dapat berakibat terjadinya hipotermi)
    3. Agama : (Untuk memudahkan cara pemberian dukungan dalam asuhan kebidanan dan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan dan kepercayaan kesehatan pasien/klien dalam kehidupannya sehari- hari)
    4. Pendidikan Ibu dan Ayah : (Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu mengenai kesehatannya serta untuk menyesuaikan pemberian KIE dan penatalaksanaan dengan pendidikan yang dimiliki)
    5. Pekerjaan Ibu dan Ayah : (untuk mengetahui bagaimana taraf hidup/keadaan status ekonomi dan mengetahui kemampuan akses serta usaha untuk mendapatkan perawatan neonatus dengan hipotermi)
    6. Alamat Ibu dan Ayah : (Untuk mempermudah menghubungi keluarga jika terjadi keadaan yang mendesak serta memudahkan melakukan kunjungan rumah) 
2.Alasan Datang :  (Untuk mengetahui alasan mengapa klien tersebut datang dan apa yang dirasakan saat ini. Biasanya yang ditemui pada bayi hipotermi adalah bayi tidak mau minum/menetek, bayi tampak lesu atau mengantuk saja, tubuh bayi teraba dingin).

3.Riwayat obstetri :
  • Riwayat Kehamilan : (Pada Ibu dengan riwayat gizi kurang selama hamil atau kurus, umur ibu saat hamil 
  • Riwayat persalinan : 
a.Jenis persalinan : (bayi yang ibunya diberikan anestesi atau analgesic beresiko mengalami
 hipotermi)
b.Umur kehamilan : (Bayi premature beresiko mengalami hipotermi)
c.Komplikasi persalinan : (persalinan lama, kelainan letak, operasi caesar beresiko terjadinya asfiksi yang dapat menyebabkan bayi mengalami hipotermi)
d.Inisiasi Menyusui Dini : (Inisiasi menyusui dini dapat mencegah terjadinya hipotermi)

4.Pola kebiasaan sehari-hari
  • Nutrisi : (Salah satu gejala bayi hipotermi yaitu bayi tidak mau minum/menetek)
  • Eliminasi : (Hipotermi dapat menyebabkan penurunan aliran darah ginjal yang berakibat terjadinya penurunan keluaran urine).
  • Aktivitas : (Salah satu gejala bayi hipotermi yaitu bayi tampak lesu atau mengantuk saja)

II.Data Objektif
a. Pemeriksaan Umum Keadaan Umum : (Bayi hipotermi biasanya tampak lemah). 
  • Tanda-tanda Vital Suhu : {Bayi Hipotermi (Neonatus dengan hipotermia) adalah bayi dengan suhu badan di bawah normal. Adapun suhu normal bayi adalah 36,5-37,5oC. Suhu normal pada neonatus 36,5-37,5oC (suhu ketiak). (Marmi, 2015)}
  • Nadi : (Tanda hipotermia berat (Cedera dingin) : sama dengan hipotermia sedang, bibir dan kuku kebiruan, pernapasan lambat, pernapasan tidak teratur, bunyi jantung lambat, selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolic) 
  •  Pernapasan : (Tanda hipotermia berat (Cedera dingin) : sama dengan hipotermia sedang, bibir dan kuku kebiruan, pernapasan lambat, pernapasan tidak teratur, bunyi jantung lambat, selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolic)
b. Pemeriksaan Antropometri
  • Berat Badan : (Pada bayi baru lahir dengan BBLR yaitu 

III.Analisa Data
  • Diagnosa                  : Bayi Ny. ….. usia ….. dengan Hipotermia (ringan/sedang/berat) 
  • Masalah                    : Bayi tidak mau minum/menetek 
  • Diagnosa Potensial  : Hipotermi berat, apnea, hipoglikemia, asidosis, kematian. 
  • Masalah Potensial    : Penurunan Berat Badan 

IV.Penatalaksanaan

  • Mandiri
1.Memberikan KIE pada ibu dan keluarga tentang kondisi bayi.                                        
--Rasional : Ibu dan Keluarga mengerti tentang kondisi bayi dan bersedia kooperatif dalam pemberian tindakan).                              
--Evaluasi : ibu dan keluarga mengerti tentang kondisi bayi dan bersedia kooperatif dalam pemberian tindakan
2.Menjaga bayi hangat dengan cara mendekap bayi di dada ibu dengan keduanya diselimuti (metode kanguru)     
--(Rasional : kontak kulit dengan ibu dapat menjaga kehangatan tubuh bayi dan mencegah kehilangan panas).     
--Evaluasi : Bayi sudah diletakkan di dada ibu dan diberi selimut serta penutup kepala)
3.Memberitahu ibu untuk memberikan ASI sesering mungkin.   
--(Rasional : Biasanya bayi hipotermi menderita hipoglikemia sehingga bayi harus diberi ASI sedikit-sedikit dan sesering mungkin). 
--Evaluasi : Ibu menyusui bayinya
4.Menunda memandikan bayi sampai suhu tubuh stabil.
--(Rasional : tindakan memandikan bayi segera setelah lahir, akan menyebabkan terjadinya penurunan suhu tubuh bayi).    
--Evaluasi : Bayi tidak dimandikan
5. Memantau suhu tubuh bayi setiap jam. 
--(Rasional : Periksa suhu tubuh bayi setiap jam, bila suhu naik minimal 0,5°C/ jam, berarti usaha menghangatkan berhasil, lanjutkan memeriksa suhu setiap 2 jam. Bila suhu tidak naik atau naik terlalu pelan, kurang 0,5°C/jam, cari tanda sepsis). 
--Evaluasi : suhu tubuh bayi telah naik ≥0,5oC/ jam
6. Melakukan pencegahan kehilangan panas secara evaporasi pada bayi dengan cara mengeringkan tubuh bayi segera setelah lahir, secar konduksi dengan cara tidak menaruh bayi pada permukaan yang dingin dan saat menimbang harus diberi alas, secara konveksi dengan cara tempatkan bayi dilingkungan yang hangat dan jauhkan dari kipas angin, AC, dan aliran udara yang dingin, secar radiasi dengan cara jauhkan bayi dari benda-benda yang dingin 
--(Rasional : Bayi dapat mengalami kehilangan panas secara evaporasi, konduksi, konveksi, dan radiasi)  
--Evaluasi : Bayi sudah dikeringkan segera setelah lahir, saat penimbangan sudah diberi alas, bayi telah diletakkan dilingkungan yang hangat jauh dari kipas angin, AC dan aliran udara dingin lainnya, serta jauh dari benda-benda yang dingin.
  • Kolaborasi                                                                                                                                       Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi
  • Rujukan                                                                                                                                               Setelah melakukan penatalaksanaan secara mandiri segera lakukan rujukan

DAFTAR PUSTAKA

Deslidel, DKK. 2011. Asuhan Neonatus, Bayi, & Balita. Jakarta : EGC
Marmi, dan Kukuh Rahardjo. 2015. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Prasekolah.
          Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Maryunani, Anik dan Nurhayati. 2009. Asuhan Kegawatdaruratan Dan Penyulit Pada Neonatus.
           Jakarta : Trans Info Media
Rukiyah, Ai Yeyeh dan Lia Yulianti. 2012. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta : Trans
           Info Media
Sacharin, Rosa M. 1994. Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi 2. Jakarta : EGC
Saifuddin, Abdul Bari. 2009. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
           Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Wahyuni, Sari. 2011. Asuhan Neonatus, Bayi, & Balita. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar