Sabtu, 21 Januari 2017

Kehamilanku Melebihi Tafsiran Persalinan, Berbahaya Kah?

Dewasa ini, sudah banyak masyarakat yang mengerti jika melahirkan kurang bulan (prematur) adalah proses melahirkan yang gawat. Hal ini dikarenakan kondisi organ bayi belum matang sehingga kemungkinan besar bayi belum siap untuk hidup di luar kandungan.

Namun, tahukan anda jika kehamilan lebih dari taksiran persalinan atau biasa disebut dengan kehamilan postmatur (serotinus) juga sangat berbahaya. Namun terkadang karena kondisi ibu yang terlihat baik-baik saja atau bisa dibilang tidak ada keluhan membuat masyarakat menyepelekan kehamilan ini.

Padahal kehamilan ini (kehamilan serotinus), sangatlah berbahaya, terutama bagi janin yang sedang di kandung oleh ibu. Mengapa demikian? Nah sekarang akan saya bahas apa itu kehamilan lebih bulan, mengapa bisa terjadi? Dan apa saja dampak buruk bagi bayi dan ibu.

Kehamilan lebih bulan adalah kehamilan yang berlangsung lebih dari 40 minggu. Namun akan dikatakan kehamilan serotinus jika kehamilan lebih dari 42 minggu terhitung dari HPHT. Bisa juga pemeriksaan usia kehamilan dengan USG, nah jika dengan USG maka hasil akan lebih akurat.

Kehamilan lebih bulan (serotinus) ini tentu saja bukan terjadi karena keinginan dari ibu sendiri atau siapapun, karena kehamilan lebih bulan (serotinus) dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu progesteron, oksitosin, kortisol, syaraf uterus, dan faktor herediter.

1.pengaruh progesteron
Pengaruh progesteron dalam kehamilan merupakan kejadian perubahan endokrin yang penting dalam memacu proses biomolekular pada persalinan dan meningkatkan sensitivitas terhadap oksitosin, sehingga kehamilan lebih bulan ini karena masih berlangsungnya pengaruh progesteron dalam tubuh.

2. Teori oksitosin
Untuk terori oksitosin sendiri adalah wanita hamil yang kurang pelepasan oksitosin dari neurohipofisis pada kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu penyebab dari kehamilan lebih bulan ini.

3. Teori kortisol (ACTH)
Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produk progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen, selanjutnya akan mempengaruhi peningkatan produksi prostaglandin pada janin yang mengalami cacat bawaan seperti anensefalus, hipoplasia adrenal janin dan tidak adanya kelenjar hipofisis.

4.Saraf uterus
Tekanan pada ganglion servikalis dari fleksus frankenhauser akan membangkitkan kontraksi uterus, pada keadaan dimana tidak ada tekanan pada pleksus ini seperti pada kelaianan letak, tali pusat pendek, semua hal tersebut dapat diduga sebagai penyebab terjadinya kehamilan serotinus.

5.Herediter
Untuk faktor herediter ini ya, setahu saya banyak dari penulis yang menyatakan bahwa seorang ibu yang mengalami kehamilan serotinus, mempunyai kecendrungan untuk melahirkan lewat bulan pada kehamilan berikutnya. Dengan kata lain memiliki riwayat kehamilan serotinus.

Saat akan menentukan apakah kehamilan sudah cukup, kurang atau bahkan lebih, maka dilakukan pemeriksaan dan penghitungan dengan cara menghitung tafsiran persalinan melalui data HPHT yang ada. Dari DJJ yang dirasakan ibu, tinggi fundus uteri, pemeriksaan USG, radiologi dan pemeriksaan laboratorium.

Jika kehamilan serotinus ini terjadi, tentu saja banyak komplikasi yang akan terjadi. Komplikasi nya bisa berdampak kepada ibu dan juga janinnya. Untuk dampak terhadap ibu seperti terjadinya distosia karena janin yang besar, persalinan akan berlangsung lama, robekan pada jalan lahir, dan perdarahan.

Sedangkan terhadap janin, plasenta tidak akan sanggup memberikan nutrisi seperti awal lagi dan tidak mampu melakukan pertukaran oksigen sehingga menyebabkan atau janin akan beresiko asfiksia, hipoksia, hopovolemia, asidosis, hipoglikemia, hingga kematian dalam rahim.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar