Selasa, 21 Februari 2017

Apa Itu PWS KIA?

PWS KIA adalah alat manajemen program KIA untuk memnatau cakupan pelayanan KIA di suatu wilayah (puskesmas / kecamatan) secara terus menerus agar dapat dilakukan tindak lanjut yang cepat dan tepat terhadap desa yang cakupan pelayanan KIA nya masih rendah.

Tujuan umum dari PWS KIA ini adalah meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan KIA di wilayah kerja puskesmas, melalui pemantauan cakupan pelayanan KIA di tiap desa secara terus menerus.

Sedangkan tujuan khususnya adalah :
  1. Memantau cakupan pelayanan KIA yang dipilih sebagai indikator, secara teratur (bulanan) dan terus menerus untuk tiap desa.
  2. Menilai kesenjangan antara target yang ditetapkan dan pencapaian sebenarnya untuk tiap desa.
  3. Menentukan urutan desa prioritas yang akan ditangani secara intensif berdasarkan besarnya kesenjangan antara target dan pencapaianya.
  4. Merencanakan tindak lanjut dengan menggunakan sumber daya yang tersedia dan yang dapat digali.
  5. Membangkitkan peran pamong setempat dalam pergerakan sasaran dan mobilisasi sumber daya.

Dalam pengelolaan program KIA ada juga prinsip yang dimiliki. Prinsipnya adalah bertujuan memantapkan dan meningkatkan jangkauan serta mutu pelayanan KIA scara efektif dan efisien.
Untuk pemantauan PWS KIA, digunakan indikator pemantauan secara teknis yaitu,
  1. Akses pelayanan antenatal (cakupan K1)
  2. Cakupan ibu hamil (cakupan K4)
  3. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan
  4. Penjaringan ibu hamil beresiko oleh masyarakat
  5. Penjaringan ibu hamil beresiko oleh tenaga kesehatan
  6. Cakupan pelayanan neonatal (KN) oleh tenaga kesehatan

Sedangkan untuk pemantauan yang non-teknis ada dua yaitu akses pelayanan antenatal (cakupan K1) dan cakupan ibu hamil (cakupan K4). Dan perlu diketahui PWS KIA disajikan dalam bentuk grafik yang berjumlah 6 grafik berdasarkan jumlah indikatornya.

Senin, 20 Februari 2017

Batasan Dalam Bidang Kebidanan


  • Pelayanan antenatal : oleh tenaga profesional selama hamil sesuai standar.
  • Penjaringan (deteksi) dini kehamilan beresiko : menemukan ibu hamil yang beresiko oleh kader, dukun bayi dan tenaga kesehatan.
  • Kunjungan ibu hamil : kontak ibu hamil dengan tenaga profesional untuk pelayanan sesuai dengan standar.
  • Kunjungan baru ibu hamil (K1) : kunjungan yang pertama kali pada masa kehamilan.
  • Kunjungan ulang : kontak dengan tenaga kesehatan yang kedua dan seterusnya untuk pelayanan antenatal selama satu periode kehamilannya.
  • K4 : kontak antara ibu hamil dengan tenaga kesehatan yang keempat kalinya atau lebih untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar.
  • Kunjungan neonatal (KN) : kontak neonatal dengan tenaga kesehatan minimal 2 kali untuk mendapatkan pelayanan dan pemeriksaan kesehatan neonatal dengan ketentuan = kunjungan pertama umur 6 jam - hari ke-7, kunjungan kedua hari ke-8 - hari ke-20. Perlu diingat bahwa pertolongan bukan merupakan kunjungan neonatal.
  • Cakupan akses : K1 dibagi sasaran kali 100%.
  • Cakupan ibu hamil (K4) : dibagi sasaran ibu hamil dikali 100%.
  • Sasaran ibu hamil : semua ibu hamil dalam satu wilayah dalam kurun waktu 1 tahun, atau dengan rumus CBR x 1,1 x jumlah penduduk, atau 3% x jumlah penduduk.
  • Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan : persentase ibu bersalin oleh tenaga kesehatan dalam periode tertentu, atau jumlah persalinan dengan rumus CBR x 1,05 x jumlah penduduk setempat, atau 2,8 x jumlah penduduk.
  • Cakupan penjaringan ibu hamil beresiko oleh masyarakat : persentase ibu hamil beresiko yang ditemukan oleh kader dan dukun bayi yang dirujuk ke puskesmas/tenaga kesehatan dalam kurun waktu tertentu.
  • Cakupan penjaringan ibu hamil beresiko oleh tenaga kesehatan : jumlah ibu hamil beresiko yang ditemukan oleh tenaga kesehatan dibagi dengan jumlah ibu hamil dikalikan 100%.
  • Ibu hamil beresiko : ibu hamil yang mempunyai faktor resiko.
  • Cakupan kunjungan neonatal (KN) : jumlah kunjungan neonatal dibagi dengan seluruh sasaran bayi disuatu wilayah dalam kurun waktu satu tahun dikalikan 100%.

Minggu, 19 Februari 2017

Bayiku Kuning? Kenapa?

Banyak orang yang belum tau saat tubuh mereka menjadi kuning adalah merupakan tanda-tanda ikterus, apa itu ikterus pun mereka tidak tahu. Dan apa bahaya serta penyebabnya juga tidak tahu karena kurangnya pengetahuan. Tapi tenang saja, sekarang kita akan membahas apa itu ikterus.

Ikterus itu berarti menguningnya sclera/bagian putih mata, kulit dan jaringan lainnya akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh. Kadar bilirubin yang meningkat dalam tubuh meninggi >10 mg yang ditandai dengan ikterus pada kulit tadi.

Ikterus pada neobatus sangat penting. Mengapa? Karena dapat menimbulkan kernikterus dan juga gejala dari penyakit yang mendasari. Perlu diketahui juga, kernikterus adalah ensefalopati akibat deposisi bilirubin indirek pada ganglia basal dan nukleus batang otak.

Ikterus ini 60% sering terjadi pada bayi yang cukup bulan (lahir dengan usia kehamilan 9 bulan) dan 80% pada bayi kurang bulan (lahir kurang dari 9 bulan). Bayi akan tampak kuning bila kadar bilirubin total meningkat >5 mg/dL.

Ikterus yang timbul tidak selamanya berbahaya, karena ikterus dibagi menjadi dua klasifikasi yaitu ikterus patologik / ikterus yang tidak wajar (abnormal) dan juga ikterus fisiologik / yang memang atau umum terjadi.

Ikterus fisiologik dapat kita ketahui jika tanda-tandanya juga kita kenali, apa saja?
  1. Ikterus muncul setelah usia 24 jam
  2. Peningkatan bilirubin tidak lebih dari 6 mg/dL dalam 24 jam
  3. Mencapai kadar puncak pada hari ke-3 sampai hari ke-5 (bayi kurang bulan: kadar puncak pada hari ke-4 hingga hari ke-7) dan kadar maksimal tidak lebih dari 15 mg/dL
  4. Menghilang pada hari ke-7, sedangkan pada bayi yang kurang bulan akan menghilang pada hari ke-14.

Untuk penyebab dari ikterus fisiologik ini ada dua. Karena produksi bilirubin meningkat dan karena ekskresi bilirubin menurun. Mengapa produksi bilirubin dapat meningkat? Karena :
  1. Konsentrasi Hb tinggi saat lahir dan menurun cepat selama beberapa hari pertama kehidupan
  2. Umur sel darah merah pada bayi baru lahir lebih pendek

Dan kenapa ekskresi bilirubin bisa menurun? Hal ini karena:
  1. Ambilan pada sel hati menurun
  2. Konjugasi di hati menurun karena imaturitas enzim-enzim hati
  3. Sirkulasi enterohepatik meningkat

Sedangkan untuk ikterus patologik, tanda-tandanya dapat kita kenali jika,
  1. Ikterus muncul pada 24 jam pertama
  2. Peningkatan bilirubin ?5 mg/dL per 24 jam
  3. Ikterus menetap setelah hari ke-7 (aterm) atau setelah hari ke-14 (prematur)
  4. Kadar bilirubin total > 15 mg/dL

Ikterus ini bisa ditangani oleh tenaga medis, sehingga anda harus memeriksakan bayi anda ke rumah sakit. Tidak perlu terlalu khawatir sehingga anda menjadi tidak bisa berfikir jernih. Dengarkan nasihan bidan saat anda melakukan konseling sehingga hal-hal ini dapat dicegah.

Sabtu, 18 Februari 2017

Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa

Wabah. Apa itu wabah? Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

Kapan dikatakan melebihi keadaan yang lazim? Daat satu kasus tunggal dari penyakit menular yang lama tidak ditemukan, atau adanya penyakit baru yang belum diketahui sebelumnya di suatu daerah memerlukan laporan cepat disertai dengan penyelidikan epidemiologis.

Penyebab utama KLB (Kejadian Luar Biasa) di Indonesia adalah diare, campak, dan Demam Berdarah Dangue (DBD). Daerah resiko tinggi KLB penyakit tertentu dapat diidentifikasi, ditetapkan prioritasnya dan disusun rancangan penanggulangan KLB berkelanjutan dalam suatu program penanggulangan KLB.

Suatu kondisi dapat dikatakan KLB jika,
  1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal.
  2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-terusan selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).
  3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali lipat atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
  4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.

Agar KLB penyakit tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat maka diberlakukanlah tujuan program penanggulangan KLB dengan berbagai tujuan khusus, diantaranya:
  1. Menurunnya frekuensi KLB.
  2. Menurunnya jumlah kasus pada setiap KLB.
  3. Menurunnya jumlah kematian pada setiap KLB.
  4. Memendeknya periode KLB.
  5. Menyempitnya penyebarluasan wilayah KLB.

Sehingga pemerintahpun melakukan dan membentuk langkah penyelidikan KLB atau disebut juga dengan investigasi wabah. Bagaimana langkah-langkahnya?
  1. Verifikasi diagnosis
  2. Tampilkan epidemiologi deskriptip
  3. Rumuskan hipotesis
  4. Rancang studi epidemiologi untuk menguji hipotesis
  5. Analisis dan interpretasi data
  6. Lakukan tindakan penanggulangan dan upaya pencegahan
  7. Buat laporan lengkap/komunikasikan hasil investigasi/penyelidikan

Setelah selesai tahap akhir adalah melaporkan penyelidikan KLB, saat melaporkan hasil penyelidikan KLB harus sesuai dengan format pelaporan yaitu :
  1. Pendahuluan yang berisi sumber informasi adanya KLB, dampak KLB terhadap kesehatan masyarakat, gambaran endemisitas penyakit penyebab KLB dan besar masalah KLB tersebut pada waktu sebelumnya.
  2. Tujuan penyelidikan KLB yang menjelaskan kepastian adanya KLB dan penegakan etiologi KLB serta besarnya masalah KLB pada saat penyelidikan dilakukan.
  3. Metode penyelidikan KLB yaitu menjelaskan secara sistematis populasi dan sampel, cara mengumpulkan dan mengolah data serta cara melaksanakan analisis.
  4. Hasil penyelidikan KLB yaitu hasil dari memastikan adanya KLB yang telah dibandingkan dengan kriteria KLB, gambaran-gambaran klinis dan distribusi gejala diantara kasus-kasus yang dicurigai, dan hasil pemeriksaan laboratorium. Disertakan juga kurva epideminya
  5. Pembahasan yang membahas kondisi KLB saat penyelidikan dilakukan, kemungkinan peningkatan kasus, penyebaran KLB, dan kemungkinan berakhirnya KLB.
  6. Kesimpuan
  7. Rekomendasi tentang perlunya penyelidikan KLB lebih lanjut dalam bidang tertentu, rekomendasi untuk kemajuan suatu program, rekomendasi perlunya bantuan Tim penanggulangan KLB provinsi, dan sebagainya.